MENGENAL KOTA BOGOR
LAMBANG KOTA BOGOR
SEJARAH KOTA BOGOR
Abad ke lima
Bogor ditilik dari sejarahnya adalah tempat berdirinya
Kerajaan Hindu Tarumanagara di abad ke lima. Beberapa kerajaan lainnya lalu
memilih untuk bermukim di tempat yang sama dikarenakan daerah pegunungannya
yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman
serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses
yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Namun hingga kini,
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa arkeolog ternama seperti Prof.
Uka Tjandrasasmita, keberadaan tempat dan situs penting yang menyatakan
eksistensi kerajaan tersebut, hingga kini masih belum ditemukan bukti
autentiknya. Kerajaan Sunda
Di antara prasasti-prasasti yang ditemukan di Bogor tentang
kerajaan-kerajaan yang silam, salah satu prasasti tahun 1533, menceritakan
kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda. Prasasti ini dipercayai
memiliki kekuatan gaib dan keramat, sehingga dilestarikan sampai sekarang.
Kerajaan Padjajaran memiliki pengaruh kekuasaan tidak hanya seluas Jawa Barat,
Jakarta dan Banten tapi juga mencakup wilayah Lampung.Kerajaan Sunda yang
berikbukota di Pajajaran juga mencakup wilayah bagian selatan pulau Sumatera.
Setelah Pajajaran diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah
selatan Sumatera dilanjutkan oleh Kesultanan Banten.[3]
Pakuan atau Pajajaran yang merupakan ibu kota pemerintahan
Kerajaan Sunda (yang sering disebut juga sebagai Kerajaan Pajajaran sesuai nama
ibukotanya) diyakini terletak di Kota Bogor, dan menjadi pusat pemerintahan
Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) yang
dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya ini diresmikan sebagai hari jadi
Bogor pada tahun 1973 oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor, dan diperingati
setiap tahunnya hingga saat ini.[4]
Zaman Kolonial Belanda
Setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota
Pakuan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin
oleh Scipio dan Riebeck pada tahun 1687. Mereka melakukan penelitian atas
Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat
pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.
Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van
Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels
yang menghubungkan Batavia dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai
daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan
pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.
Setahun kemudian, van Imhoff menggabungkan sembilan distrik
(Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur,
Dramaga, dan Kampung Baru) ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap
Kampung Baru Buitenzorg. Di kawasan itu van Imhoff kemudian membangun sebuah
Istana Gubernur Jenderal. Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg
dipakai untuk menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung,
Muara Cihideung, hingga puncak Gunung Salak, dan puncak Gunung Gede.
Kebun Raya Bogor
Ketika VOC bangkrut pada awal abad ke sembilan belas,
wilayah nusantara dikuasai oleh Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal
Thomas Raffles yang merenovasi Istana Bogor dan membangun tanah di sekitarnya
menjadi Kebun Raya (Botanical Garden). Di bawah Raffles, Bogor juga ditata
menjadi tempat peristirahatan yang dikenal dengan nama Buitenzorg yang diambil
dari nama salah satu spesies palem.
Hindia Belanda
Setelah pemerintahan kembali kepada pemerintah Belanda pada
tahun 1903, terbit Undang-Undang Desentralisasi yang menggantikan sistem
pemerintahan tradisional dengan sistem administrasi pemerintahan modern, yang
menghasilkan Gemeente Buitenzorg.
Pada tahun 1925, dibentuk provinsi Jawa Barat (provincie
West Java) yang terdiri dari 5 karesidenan, 18 kabupaten, dan kotapraja
(stadsgemeente). Buitenzorg menjadi salah satu stadsgemeente.
Zaman Jepang
Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, pemerintahan
Kota Bogor menjadi lemah setelah pemerintahan dipusatkan pada tingkat
karesidenan.
Masa kemerdekaan
Pada tahun 1950, Buitenzorg menjadi Kota Besar Bogor yang
dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 16 tahun 1950[5].
Pada tahun 1957, nama pemerintahan diubah menjadi Kota Praja
Bogor, sesuai Undang-Undang nomor 1 tahun 1957[6].
Kota Praja Bogor berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II
Bogor, dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 1965[7] dan Undang-Undang nomor 5
tahun 1974[8].
Kotamadya Bogor berubah menjadi Kota Bogor pada tahun 1999
dengan berlakunya Undang-Undang nomor 22 tahun 1999.
PEREKONOMIAN KOTA BOGOR
Perekonomian Kota Bogor terus
berdenyut, menandai kehidupannya yang sehat. Pertumbuhan Ekonomi Kota
Hujan ini memang terus melaju, dan pada tahun 2013 diperkirakan angka
pertumbuhan ekonomi Kota Bogor sudah melaju dengan angka 6,11%.
Di dalam laju pertumbuhan ekonomi Kota Bogor, terdapat pertumbuhan nilai investasi. Pada tahun 2012 realisasi investasi mencapai lebih dari Rp 8,7 trilyun dan pada tahun 2013 diprediksi mampu mencapai lebih dari Rp 9.1 trilyun
Untuk tahun 2014 nilai investasi di Kota Bogor diprediksi bisa mengalami kenaikan sampai mencapai nilai Rp 10,4 trilyun. Sementara itu pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diperkirakan bisa melaju dengan angka 6,26%.
Dengan aktivitas perekonomian yang tumbuh di atas 6%, bisa diperkirakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku pada tahun 2014 bisa mencapai jumlah Rp 21,4 trilyun lebih. Artinya mengalami kenaikan sekitar Rp 1,5 trilyun dari PDRB Atas harga Berlaku tahun 2013 yang diperkirakan mencapai Rp 19,9 trilyun.
Sementara itu inflasi diprediksi bisa mencapai 5,5%. Angka perkiraan ini patut diantisipasi karena berpeluang untuk menjadi kenyataan. Antara lain karena kondisi perekonomian nasional yang terjadi sampai dengan akhir tahun 2013. Salah satu aspek yang perlu terus diwaspadai adalah fluktuasi nilai mata uang rupiah yang terus tertekan, dan sampai pernah menyentuh angka di atas Rp 12.000/ US dolar di awal Desember lalu.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu peningkatan harga berbagai jenis komoditi. Terutama berbagai jenis barang kebutuhan dan pendukung industri yang harus diimpor. Lemahnya mata uang rupiah otomatis akan memacu naiknya harga komoditas tersebut.
Prediksi pertumbuhan ekonomi Kota Bogor tahun 2014, juga dipengaruhi oleh beberapa elemen makro ekonomi lainnya. Laju pertumbuhan penduduk diperkirakan akan mencapai 1,89%, dan dengan laju pertumbuhan seperti itu, jumlah penduduk Kota Bogor diperkirakan mencapai 1,04 juta jiwa dengan kepadatan penduduk mencapai 8,8 jiwa.
Laju pertumbuhan penduduk dapat dipandang sebagai peluang pasar yang tumbuh oleh para investor, meskipun tetap harus selektif agar sesuai dengan segmen market yang dibidik. Tetapi yang jelas dari sudut pandang pembangunan daerah, pertumbuhan penduduk dapat menimbulkan persoalan sosial seperti meningkatnya jumlah pengangguran dan merebaknya pemukiman kumuh. Untuk tahun 2014 jumlah pengangguran terbuka diproyeksikan akan mencapai 8,92%.
Perkembangan Sektor Usaha
Berkaca pada perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang sudah terpetakan antara tahun 2010 – 2011, dapat terlihat beberapa sektor usaha yang berperan pada kegiatan investasi. Perdagangan, Hotel dan Restoran merupakan sektor bisnis yang berkontribusi sangat besar pada pertumbuhan ekonomi Kota Bogor. Diikuti kemudian oleh sektor industri pengolahan, pengangkutan dan komunikasi, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.
Sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2011 berkontribusi pada PDRB sebesar 36,65%. Sektor pengangkutan dan komunikasi berkontribusi 15,29%, sedangkan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan berkontribusi 10,14%.
Sampai dengan tahun 2011, kegiatan perdagangan besar dan eceran mengalami pertumbuhan sampai dengan 5,56%. Pertumbuhan itu secara kasat mata terlihat dari terbangunnya pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan retail.
Namun pertumbuhan lebih tinggi terjadi pada kegiatan usaha industri pengolahan, seperti industri pupuk, kimia dan barang berbahan karet sebesar 8,12%. Lebih tinggi daripada pertumbuhan kegiatan usaha perhotelan yang mencapai 7,15%.
Sedangkan kegiatan usaha paling tinggi pertumbuhannya sampai dengan tahun 2011 adalah perbankan, sewa bangunan dan komunikasi. Sektor usaha lain yang juga mengalami pertumbuhan adalah sektor listrik, gas dan air bersih yang terpicu oleh kegiatan konstruksi, industri dan perdagangan. Juga jenis usaha restoran dan pengangkutan serta lembaga keuangan non bank.
Gambaran yang terlihat pada dinamika kontribusi sektor usaha pada PDRB, mencerminkan aktivitas investasi pada sektor-sektor usaha tersebut. Dengan laju pertumbuhan penduduk cukup tinggi dan adanya peningkatan daya beli masyarakat, maka sektor-sektor usaha tersebut masih dapat dieksplorasi sebagai ladang berinvestasi di Kota Bogor. (Adv/ AS)
KEBUDAYAAN DI KOTA BOGOR
Kota Bogor merupakan salah satu kawasan di Tatar Sunda yang kaya akan sumber daya arkeologis dari berbagai periode budaya. Peninggalan-peninggalan tersebut antara lain berasaldari masa prasejarah hingga ke periode-periode budaya berikutnya, seperti masa klasik, masa Islam, serta dari masa pengaruh Eropa
Persebaran lokasi penemuan peninggalan-peninggalan
tersebut hampir tersebar di seluruh wilayah Bogor. Dari era prasejarah,
tinggalan arkeologi yang sementara dapat sebagai bagian
dari keprasejarahan kawasan Kota Bogor, diantaranya berasal dari
tradisi budaya yang mulai tumbuh dan berkembang sejak masa bercocok
tanam (Neolitik), yaitu berupa benda-benda dan bangunan yang berkaitan
tradisi atau upacara yang berkaitan dengan pengagungan arwah leluhur,
yaitu benda-benda dan bangunan yang termasuk dalam kelompok tradisi
budaya megalitik.
Di masa lalu menurut von Heine Geldern (1945), tradisi budaya ini
disimpulkan masuk dan berkembang di kawasan Nusantara sejak 3000 tahun
sebelum masehi dan kemudian terus berkembang menembus kurun waktu
sejarah. Oleh karena panjangnya rentang perkembangan budaya ini,
sehingga kemudian disebut sebagai tradisi budaya megalitik.
Dalam sejarah perkembangan kebudayaan di Indonesia, di kawasan Bogor di masa lalu, juga pernah tercatat sebuah kerajaan kuno yang sangat mashur yang dikenal dengan sebutan “Pakwan Padjajaran”.
Banyak
terdapat dikemukan para ahli tentang kerajaan ini, di antaranya ada
yang menyimpulkan bahwa kota Bogor di masa lalu merupakan bagian dari
pusat Pakwan Padjadjaran”. Masa klasik di Kota Bogor di masa lalu tersebut
dibuktikan dengan sejumlah temuan baik berupa prasasti maupun arca-arca
batu yang mewakili masa klasik yang pernah berlangsung di masa lalu.
Setelah
itu, pengaruh budaya Islam dan Kolonial di kawasan Kota Bogor di masa
lalu juga telah meninggalkan sejumlah tinggalan budaya materi.
Secara historis, pertama kali wilayah Bogor dikenal sebagai pusat Kerajaan Pakuan-Padjadjaran. Dalam klasifikasi kota pedalaman, kota Bogor tumbuh di sekitar keraton yang ada. Fungsi kita itu adalah memberikan berbagai barang dan jasa untuk keraton, sementara kota-kota itu juga menikmati kemegahan yang melimpah dari istana kerajaan serta sisa-sisa kemewahan, dari kehidupan mewah yang ada di dalam keratin (Wertheim,1999 :133). Nama wilayah Bogor pada masa Kerajaan Pakuan-Padjadjaran adalah Dayeuh yang diperintah oleh seorang rajanya yang paling terkenal, yaitu Sri Baduga Maharaja atau yang diyakini pula sebagai Prabu Siliwangi yang memerintah sejak tanggal 3 Juni 1482. Namun demikian kekuasaan Pakuan-Padjadjaran runtuh manakala terjadi serangan yang dilakukan Kesultanan Banten di bawah komando Sultan Hasanudin pada tahun 1579. Kemudian bekas-bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Pakuan-Padjadjaran terbagi ke dalam beberapa kekuasaan. Di bagian timur berada dalam kekuasaan Cirebon, di sebelah barat berada di bawah kekuasaan Banten, sedangkan wilayah Bogor sendiri berada di bawah penguasaan langsung Pangeran Jayakarta. Akibat dari penyerangan ini tidak saja mengakibatkan kehancuran ibukota kerajaan, tetapi juga pembunuhan masal masyarakat di sekitarnya sehingga dapat dikatakan rantai sejarah keberadaan wilayah ini dapat dikatakan hilang sama sekali. Jejak-jejak sejarah dapat dikatakan berputar ketika orang-orang Eropa mulai menguasai Hindia Timur, tepatnya sejak tahun 1677 ketika Kompeni Belanda mulai menguasai wilayah kedaulatan Pangeran Jayakarta, yakni Batavia hingga ke wilayah Bogor. Setelah mealukan tiga kali ekspedisi,akhirnya di bawah pimpinan Letnan berhasil didirikan sebuah perkampungan yang dinamakan Kampung Baru di sekitar wilayah Tanah Baru sekarang. Dalam perkembangannnya, Kampung Baru kemudian menjadi pusat kampung-kampung lainnya yang muncul kemudian di sekitar wilayah Bogor (Danasasmita, 1983 :83). Walaupun begitu, secara resmi baru pada tahun 1745 terjadi penggabungan kampung-kampung tersebut di bawah nama Kabupaten Kampung Baru. Namun demikian lima tahun sebelum perisitwa pembentukan kabupaten itu terjadi, terdapat sebuah peristiwa penting di kota ini, yaitu pembantukan Vila Buitenzorg atas perintah Baron Van Imhoff pada tahun 1745 (Thung, 2008 :1). Gubernur Jenderal ini merasakan suasana lingkungan Kota Batavia tidak lagi kondusif untuk dijadikan tempat tinggal. Untuk itu ia kemudian mencari sebuah daerah strategis yang mempunyai hawa sejuk, nyaman, dan tenang, namun letaknya tidak jauh dari Bogor. Atas dasar itulah kemudian Bogor dijadikan pilihan utama. Berdasarkan fungsi sebagai tempat peristirahatan wilayah Bogor kemudian lebih populer dengan nama Buitenzorg yang artinya kota tanpa kesibukan. Pada masa Daendels, Vila Buitenzorg ini kemudian beralih fungsi menjadi tempat kedudukan resmi Gubernur Hindia Belanda, yang peresmiannya sebenarnya baru berlangsung pada tahun 1866 melalui surat Keputusan gubernur Jenderal Hindia-Belanda No.11 tahun 1866. Status in berlangsung sampai dengan masa Pendudukan Jepang Bahkan, status Kota Bogor tidak hanya sebatas itu saja menyusul keputusan pemindahan pusat admisitratif Hindia Belanda ke kota ini dengan didirikannya kantor Algemeene Secretarie pada tahun 1888.
Pada
tahun 1905 adalah sebuah episode baru dalam perkembangan Buitenzorg. Hal
ini disebabkan karena sejak tahun ini Buitenzorg secara resmi lepas
dari Batavia dan diberikan otonomi sendiri berdasarkan Keputusan
Gubernur Jenderal Hindia Belanda No.208 pada tahun 1905. Sejak saat itu juga secara resmi berdiri sebuah pemerintahan otonom Geemente dengan luas wilayah 22 kmr2 yang terdiri atas dua distrik dan tujuh desa dan diproyeksikan dapat menampung penduduk sebanyak 30.000 jiwa. Gemeente ini sendiri dipimpin oleh seorang Burgemeenter dan corak pemerintahan ini berlangsung sampai dengan masa Pendudukan Jepang. Reformasi istilah-istilah di bidang pemerintahan mulai dilakukan. Istilah Si (Gemmente) Sya (keresidenan), Ken (kabupaten), Gun (kewedanaan), Son (kecamatan), dam Ku
(desa/kelurahan) sejak Jepang mulai menduduki Hindia-Belanda. Peyebutan
pemimpin masing-masing satuan pemerintahan ini dilakukan dengan
menambahkan Co saja. Misalkan, Syuco untuk menyebut residen, Kenco untuk bupati, dan sebagainya., Di samping itu dilakukan juga penggantian nama Buitenzorg menjadi nama Bogor sebagai nama resmi kota ini.
Setelah memasuki masa Kemerdekaan, Bogor masih sempat menggunakan mengunakan Si dengan pimpinannya Sico
yang pada waktu itu dijabat oleh R. Odang Prawiradipraja yang hanya
memerintah selama satu tahun (1945-1946). Selanjutnya karena Bogor
kemudian dikuasai oleh Belanda, maka diangkatlah soerang Burgemeenter,
yaitu J.J. Penoch yang memerintah selama dua tahun (1948-1950). Namun
setelah itu Bogor berstatus Kota Praja dengan pemimpinnya R. Djoekardi.
Setelah terjadi pergantian satatus pemerintahan dari Kota Praja menjadi
Pemerintah Kota Besar, dan Pemerintah Kota Madya, berturut-turut Bogor
dipimpin oleh Kartadjumena( 1952-1956), Pramono Notosudiro (1956-1959),
Abdul Rachman (1960-1961) dan Ahmad Adnawijaya (1961-1965). Perubahan
kembali terjadi setelah terjadinya pergantian Orde Lama ke Orde Baru.
Sejak era ini, seorang kepala daerah mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai
sebagai orang daerah dan juga sebagai orang pusat yang
memiliki kewenangan untuk menjalankan pemerintahan. Pada masa
kepemimpinan Achmad Syam (1 September 1965-7 Maret 1979), fokus utama
pembangunan wilayah Bogor terletak pada penataan wilayah yang semula
terdiri dari dua wilayah admistratif, yaitu Kecamatan Kota Kaler dan
Kecamatan Kota Kidul. Namun sejak diedarkannya Surat Keputusam Walikota
Bogor No. 5422/1/68.a, Bogor kemudian terbagi atas lima wilayah
admistratif, 16 wilayah administratif lingkungan. Achmad Syam kemudian
digantikan oleh Achmad Sobana (7 Maret 1979-7 Maret 1984). Sasaran utama
pemenrintahhnya masih sama, yaitu pemekaran wilayah Bogor untuk
mengefisienkan pelayanan administrasi pemerintahan. Oleh karena itu
dilakukan pemekaran di beberapa wilayah, seperti Kecamatan Bogor Timur,
Bogor Utara, dan Bogor Selatan. Namun rencana pemekaran ini baru
berhasil direalisasikan pada masa pemerintahan Ir. Muhammad (7 Maret
1984-7 Maret 1989) yang ditandai dengan pergantian nama lingkungan
menjadi kelurahan dan realisasi pemekaran Kecamatan Tanah Sareal
sehingga Bogor secara resmi terdiri dari lima wilayah administrartif. Di
samping itu terjadi juga peningkatan jumlah kelurahan dari 16 menjadi
22 kelurahan dengan luas wilayah 2.156 hektar dan jumlah penduduk tahun
1988 adalah 284.558 jiwa. Penggantinya, Suratman kemudian lebih
memfokuskan pada penataan wilayah Kota Bogor (7 Maret 1989-7 Maret
1994). Baru pada zaman Edi Gunardi, realisasi penataan ruang ini
terealisasi dengan meluasnya wilayah Kota Bogor menjadi 11.850 hektar
dan jumlah penduduk 584.884 jiwa. Selanjutnya pada masa pemerintahan
Iswara Natanegara (1999-2004) boleh dikatakan merupakan masa
pemerintahan walikota tersukses. Hal itu tidak saja ditujukkan dengan
perubahan status desa menjadi kelurahan tetapi juga pelayanan publik
menjadi prioritas sehingga tidak heran Iswara mendapat 28 penghargaan
dan menjadi walikota yang menerima penghargaan terbanyak. Penggantinya
Diani Budiarto (2004-200) dikatakan merupakan pemerintahan yang
kontroversial. Hal ini dikarenakan wakilnya M. Sahid dinonaktifkan
sehingga Diani Budiarto harus menyelesaikkan sendiri rencana pemerintahan Kota Bogor yang meliputi kebersihan kota, penataan pedagang kaki lima, penataan transportasi, dan kemiskinan.
Perkembangan Masyarakat Kota Bogor
Seperti
yang telah dijelaskan di atas, Bogor atau Dayeuh adalah pusat Kerajaan
Pakuan Padjadjaran. Dari keterangan yang didapatkan, kota ini pernah
berpenghuni 50.000 jiwa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kota
ini, pada awalnya, didominasi oleh orang-orang Sunda. Namun demikian,
semenjak Kerajaan Pakuan Padjadjaran dimusnahkan oleh Kesultanan Banten
dapat dikatakan hampir sebagian besar penduduk kota itu tidak diketahui
nasibnya. Hal itu kemudian dibuktikan pada ekspedisi yang dilakukan oleh
orang-orang Belanda yang tidak menemukan tanda-tanda pemukiman penduduk
di bekas Kerajaan Pakuan-Padjadjaran tersebut, kecuali di beberapa
tempat yang letaknya agak jauh dari pusat kerajaan. Namun demikian,
terdapat pula sekitar 7-8 orang-orang eks laskar Mataram yang meminta
perlindungan kepada Kesultanan Banten menyusul penyerangan yang gagal terhadap
Batavia. Para eks-laskar Mataram ini kemudian diizinkan untuk menetap
di wilayah Bogor, tepatnya di pinggir kali Ciliwung.
Setelah
Tanuwijaya mendirikan kampung pertama di wilayah Tanah Baru sekarang,
dengan nama Kampung Baru yang merupakan koloni pribumi pertama di
Buitenzorg, menyusul didirikan beberapa kampung lainnya. Namun yang
perlu diperhatikan disini adalah letak kampung-kampung tersebut berada
di luar pusat Kota Bogor sekarang. Keberadaan kampung pribumi pertama di
pusat Kota baru diketahui sejak berdirinya koloni pribumi di areal
halaman Vila Buitenzorg dengan nama Kampung Bogor. Masyarakat kampung
inilah yang merintis aktivitas perdagangan di pusat kota yang salah
satunya adalah mendirikan pasar yang terkenal dengan nama Pasar Bogor.
Pada awalnya pasar ini hanya buka dua hari dalam satu minggu, namun
karena perkembangan aktivitas perdagangannya, kemudian pasar ini
kemudian buka setiap hari sampai sekarang. Bahkan kelak kemasyuran pasar
ini membuat para pendatang dari etnis Tionghoa datang dan bahkan
bermukim di sekitar pasar kebanggan warga Bogor ini.
Thung Ju
Lan berpendapat bahwa masyarakat di pusat Buitenzorg mulai beragam
semenjak tahun 1790-an (Thung, 2008 :2). Artinya, dengan mengaitkan
keberadaan Kampung Bogor, Pasar Bogor, dan perkembangan perkampungan
Tionghoa, setidaknya dapat disimpulkan bahwa ada tiga kelompok
masyarakat di Buitenzorg pada saat itu, yaitu Eropa (khususnya Belanda),
Timur-Asing (Tionghoa), dan Pribumi (Kampung Bogor). Berkaitan dengan
itu, Sopandi juga mendukung peryataan itu. Ia memetakan
pemukiman-pemukiman yang terdapat di Buitenzorg ke dalam tiga kawasan,
yaitu Zona Eropa yang meliputi sekeliling Kebun Raya, Jalan Ir. Juanda
(untuk keperluan perkantoran dan pemukiman), hingga daerah Ciwaringin di
utara, dan Taman Kencana di timur. Seiring dengan diberlakukannya
Sedangkan kawasan Pecinan terletak di sepanjang Handelstraat atau Jalan Suryakencana sekarang yang berfungsi sebagai pusat perekonomian Buitenzorg Untuk
masyarakat pribumi, sebenarnya tidak ada wilayah khusus, tetapi harus
berada di luar pusat kota Bitenzorg (Sopandi,). Pola pemukiman model ini sebenarnya merupakan standar kota-kota kolonial di Hindia-Belanda atau yang dikenal dengan kebijakan Wijkenstelsel,
namun di Buitenzorg sendiri peraturan ini tidak dijalankan secara ketat
sehingga hubungan antara orang-orang Eropa, Tionghoa, dan Pribumi dapat
terjalin secara harmonis.
Memasuki
awal abad ke-20, populasi penduduk Buitenzorg, terutama dari golongan
Eropa dan Tionghoa semakin meningkat. Hal inilah ynag mengakibatkan
Buitenzorg diberikan otonomi khusus dengan status Gemeente. Dari kalkulasi yang pernah dilakukan tercatat bahwa jumlah pendudujk Afdeling Buitenzorg pada periode 1843 adalah 46.135 jiwa yang kemudian meningkat pada tahun 1845 dengan
jumlah 58.614 jiwa. Sedangkan pada tahun 1849 jumlah penduduknya adalah
64.446 jiwa dan pada tahun 1861 menigkat menjadi 81.355 jiwa. Lonjakan
yang cukup besar mulai dirasakan sejak tahun 1905 dan semakin melonjak
saat dilakukan pecatatan penduduk tahun 1930 (Muhsin, 1994 :124-129).
Peningkatan jumlah penduduk ini, selain dipengaruhi oleh peningkatan
status administratif Buitenzorg, juga dipengaruhi juga oleh perkembangan
perekonomian kota, khususnya yang berkaitan dengan perdagangan regional
dan tempat transit aliran barang menuju Batavia. Dalam hal ini,
perkembangan ini didukung oleh sarana dan prasarana transportasi yang
berkembang dengan cukup baik, terutama jalan raya dan pembangunan rel
kereta api 1873 yang melayani rute Batavia-Buitenzorg.
Memasuki
alam kemerdekaan, khususnya setelah revolusi fisik berakhir, Kota Bogor
kemudian membenahi diri khususnya mengenai pembagian wilayah
administrasi dan pengaturan tata ruang kota. Setelah dua hal itu
selesai, kemudian Kota Bogor juga diikutsertakan dalam proyek
pembangunan kawasan Jabotabek pada tahun 1970-an yang berfungsi untuk
mengurangi migrasi penduduk ke Jakarta, Artinya, Bogor diharapkan dapat
dijakdikan pemukiman alternatif selain Tangerang dan Bekasi. Mulai saat
itu Kota Bogor setiap tahunnya mengalami lonjakan penduduk yang
signifikan. Pada tahun 1971 jumlah penduduk Kota Bogor adalah 196.815 jiwa sedangkan pada tahun 1981 jumlah penduduknya meningkat menjadi 246.052 (Muhsin, 1994 :129).
Memasuki
periode tahun 1990-an sampai dengan sekarang, semakin meningkatnya
mobilitas penduduk, baik dari wilayah maupun luar wilayah pulau Jawa
sendiri membuat Kota Bogor semakin sesak. Pertambahan penduduik ini
sangat mudah diamati dengan melihat perkembangan pemukiman-pemukiman penduduk di sekitar wilayah Kota Bogor. Dalam penghitungan penduduk tahun 2006 tercatat total keselurahan penduduk di Kota Bogor adalah 750.250 jiwa (http://www.kotabogor.go.id/demografi.htm). Di samping itu, dapat pula dilihat jumlah pemukiman yang berjumlah lebih dari seratus perumahan.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa, perkembangan penduduk mulai dirasakan
semenjak Buitenzorg dijadikan kedudukan resmi Gubernur Hindia Belanda
pada awal abad ke-19. Bersamaan dengan itu tumbuh pula potensi ekonomi
kota yang didukung oleh sarana transportasi yang memadai. Memasuki masa
kemerdekaan, khususnya pada masa Orde Baru, Kota Bogor tumbuh sebagai
kota berbasis pemukiman para pekerja yang mencari nafkah di Jakarta. Hal
ini sangat terlihat ketika kita melihat mengamati jumlah pemukiman yang
dibangun di Kota Bogor.
Kehidupan Masyarakat Kota Bogor
Sejak
zaman Kolonial sampai dengan sekarang, masyarakat Kota Bogor telah
mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini tentu saja membawa
pengaruh , khususnya di dalam kehidupan kemasyarakatan. Namun, harus
pula dipahami terlebih dahulu bahwa Kota Bogor terletak di perbatasan
antara Propinsi Jawa Barat dan Propinsi DKI Jakarta. Hal ini tentu saja
berpengaruh terhadap kehidupan masyarakatnya, baik dilihat dari segi
kehidupan ekonomi, sosial, maupun budaya. Bahkan, terkadang, Kota Bogor
diklasifikasikan sebagai bagian dari Propinsi DKI Jakarta, namun sebenarnya Kota Bogor juga tidak dapat dipisahkan dari kesatuan Propinsi Jawa Barat.
Berkaitan
dengan itu, dalam perkembangannya, Masyarakat Kota Bogor memiliki
dinamakan kehidupan yang sangat beragam. Namun, secara umum, dapatlah
dilihat dua corak utama kehidupan masyarakat Kota Bogor,
yaitu masyarakat asli Kota Bogor yang dapat dikelompokkan sebagai
masyarakat tradisional yang masih menggantungkan hidupanya dari
pertanian dan biasanya berdomisili di wilayah pedalaman Kota Bogor serta
masih kuat dalam menjalankan budayanya. Sedangkan masyarakat pendatang
yang diklasifikasikan sebagai masyarakat moderen bertempat tinggal di
pusat Kota Bogor. Mereka biasanya mengkonsentrasikan bidang pekerjaannya
di institusi pemerintahan dan swasta, baik sebagai pegawai, pedagang,
penyedia jasa dan sebagainya. Namun demikian, dalam bidang budaya merek
terseret oleh budaya moderen kota sehingga budaya lokal yang mereka bawa
semakin terkikis.
Untuk
memudahkan dalam mengamati kehidupan masyarakat Kota Bogor, maka dalam
makalah aspek kehidupan akan dikhususkan pada bidang ekonomi, sosial,
dan budaya.
Kehidupan
ekonomi Masyarakat Kota Bogor dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian,
yaitu kehidupan ekonomi tipe pasar dan kehidupan ekonomi tipe perusahaan
atau firma .Pendukung kehidupan ekonomi tipe pertama adalah adalah
masyarakat yang tinggal di pinggiran Kota Bogor. Masyarakat ini masih
terikat pada faktor alam, seperti tanah, pertanian, dan musim. Di
samping itu pula mereka bukan tergolong masyarakat yang mengutamakan
rasionalitas, efisiensi, dan profit oriented. Adapun kehidupan ekonomi pedesaan ini dapat pula dikelompokkan menjadi pertanian, peternakan dan perikanan, Perdagangan,Kerajinan, Industri Rumah Tangga, dan Buruh (Muhsin, 1994 :143-146). Sedangkan
masyarakat pendukung kehidupan ekonomi tipe kedua adalah masyarakat
perkotaan yang tinggal di pusat kota.. Mereka lebih cenderung
mengembangkan usaha di bidang perusahaan dan perindustrian. Adapun
masyarakat tipe ini mendapat sokongan infrastruktur yang kuat,
organisasi dan manjemen yang solid, rasional, dan efisien, serta
berorientasi pada keuntungan. Kehidupan ekonomi perusahaan atau firma
ini terdiri dari berbagai macam sub-bidang, seperti tekstil,
percetakan,perusahaan konstruksi bangunan, perusahaan-perusahaan
perdagangan,pemrosesan metal, dan sebagainya (Muhsin, 1994 :147-148).
Dalam
kehidupan sosial, Masyarakat Kota Bogor pun terklasifikasi ke dalam
masyarakat pedesaan yang merupakan penduduk asli Kota Bogor, dan
masyarakat perkotaan yang merupakan penduduk pedatang Kota Bogor. Namun
dalam perkembanganntya interaksi diantara dua kelompok masyarakat ini
tergolong intens karena pada kenyataannya keduanya saling membutuhkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, karena kepentingan ekonomi orang-orang
perkotaan, masyarakat desa secara perlahan-lahan telah berorientasi ke luar.
Artinya, terjadi revolusi struktur masyarakat pedesaan yang tidak lagi
didasarkan pada tanah tetapi pada mata pencaharian memang masih ada
masyarakat yang tetapi dalam pengolahan hasil pertaniannya banyak
mengunakan tekonlogi yang tepat guna sehingga dapat menghasilkan
keuntungan. Namun, sebagian besar masyarakat desa kemudian mengadakan
migrasi ke luar desa untuk mengadu nasib di perkotaan. Namun, mereka pun
masih mempertahankan tempat tinggal dan juga pekerjaan lama mereka,
terutama dalam bidang pertanian.. Oleh karena itu banyak diantara
masyarakat desa seperti itu memilih menjadi migran musiman atau commnuting
(migran yang pulang-pergi). Pada sisi lain, masyarakat kota pun
mengalami perubahan dalam bidang sosial pula. Hal ini mulai terasa sejak
memasuki abad ke-20 menakala terjadi kebangkitan golongan menegah yang
kemudian menyisihkan golongan-golongan priyayi. Mereka kemudian banyak
bergelut dalam bidang perdagangan dan industri yang mengakibatkan terjadi mobilitas sosial yang menonjol di kalangan masyarakat pribumi. Di samping itu pula, mobilitas sosial dapat pula disebabkan oleh faktor
pendidikan. Sejak pengangkatan pegawai negeri didasarkan oleh tingkat
pendidikan seseorang, banyak diantara orang-orang pribumi yang
bersekolah demi mendapatkan pekerjaan itu. Perkembangan zaman kemudian
telah mengakibatkan interaksi sosial antara dua tipe masyarakat ini
semakin intens. Hal itu disebabkan oleh. Beberapa faktor seperti desa
merupakan tulang punggung perekonomian kota, komersialisasi hasil-hasil
pertanian bertumpu pada kota, masyarakat desa banyak yang bermigrasi ke
kota, terjadi mobilitas sosial yang cukup tinggi, dan tersedianya sarana komunikasi dan transportasi yang memadai (Muhsin 1994 :156-157).
Dalam
bidang kebudayaan, masyarakat Kota Bogor pun terbagi ke dalam dua jenis,
yaitu masyarakat asli yang masih memeprtahankan Kebudayaan Sunda dan masyarakat kota yang mulai mengembangkan budaya perkotaan namun masih mendapat pengaruh Budaya Sunda akibat intensnya interaksi antar masyarakat seperti yang telah disebutkan di atas. Dalam kehidupan masyarakat asli, Budaya Sunda yang paling dikenal oleh masyarakat Bogor lainnya adalah pelaksanaan Upacara Seren Taun Guru Bumi
di Kaki Gunung Salak, upacara ini merupakan simbolisasi dari
keberhasilan panen. Upacara ini sangat kental dengan Budaya Sunda karena
selain diramaikan oleh pertujukan Angkung Gubrag, juga dalam ritualnya
banyak menggunakan instrumen tradisional Sunda, seperti Jempana dan Dongdang
yang merupakan makanan tradisional dan hasil usaha tani (Puniman, 2006 :
68). Di samping itu, yang menarik pula apabila kita amati budaya yang
berkembang dalam masyaraka perkotaan. Bila kita amati secara lebih
seksama, terdapat percampuran antara budaya Betawi dan Budaya Sunda.
Misalnya, dalam percakapan sehari-hari sering kita temukan pernyataan
“Gua Geleuh sama Lu”. Kata “Gua” merupakan bagian dari bahasa Betawi,
sedangkan kata “Geleuh” merupakan Bahasa Sunda. Oleh karena itu pula,
mungkin, terjadi perubahan sifat Bahasa Sunda yang bila dibandingkan
dengan Bahasa Sunda yang digunakan di wilayah Bandung, Bahasa Sunda
Bogor terkesan lebih kasar. Di samping itu, gejala yang kemudian muncul,
terutama di kalangan masyarakat pendatang adalah muncul dan
berkembangya sikap kepedulian terhadap Budaya Sunda. Sehingga pemahaman
akan Budaya Sunda semakin terkikis, bahkan orang Sunda yang laihr di
Kota Bogor pun belum tentu dapat berbahas Sunda, dan digantikan oleh
budaya perkotaan yang tidak mengindahkan nilai-nilai tradisional.
Potret Kehidupan Masyarakat Perumahan Indraprasta II
Perumahan
Indraprasta II merupakan perluasan dari proyek Perumahan Nasional
(Perumnas). Dalam sejarah perumahan di Indonesia dikenal kebijakan perumahan yang merupakan bagian dari Repelita I (1969-1974). Sebagai implikasinya kemudian dikeluarkan Keputusan Presidien RI No.29/1974 tentang pembentukan Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perum Perumnas) (Silas, 2005 :14). Perumnas di Kota Bogor pada awalnya merupakan sebuah
perumahan yang menempati areal yang sangat luas. Namun seiring
perkembangan zaman, kemudian areal ini dibagi-bagi ke dalam beberapa
unit komplek perumahan. Salah satunya yang terbesar adalah Perumahan
Indraprasta I yang mulai dibangun pada awal tahun 1990. Semakin
membaiknya sarana transportasi di wilayah tersebut, membuat pengembang
kemudian membuat kembali Perumahan Indraprasta II pada akhir tahun
1990-an dengan keunggulan akses jalan yang langsung ke jalan tol.
Kemudahan ini kemudian membuat perumahan ini laku, terutama dari
kalangan para pekerja yang berkator di Jakarta, namun lebih memilih
bermukim di Kota Bogor. Dalam perkembangannya, karena letaknya yang
strategis di sekitar komplek Indraprasta II ini kemudian bertebaran pula
tempat-tempat usaha, seperti Factory Outlet (FO), bengkel, dan yang paling banyak adalah usaha rumah makan.
Dalam
kehidupan masyarakatnya pun dapat dikatakan unik. Hal ini disebabkan
oleh letak wilayah Perumahan Indraprsta itu sendiri. Walaupun dalam
kompleks perumahan itu didominasi oleh masyarakat perkotaan, namun di
sekitar tempat tersebut terdapat pula masyarakat-masyarakat asli
terutama yang berasal dari wilayah Cimahpar. Relasi diantara para
penduduk di kompleks ini dapat sangat mencerminkan kehidupan masyarakat
perkotaan yang lebih cenderung individualis, mengembangkan hubungan yang
bersifat formal, dan bersifat profesional. Namun bukan berarti relasi
diantara penghuni kompleks tersebut tidak berjalan . Hal ini terutama ditujukkan
dengan diadakannya acara arisan rutin kompleks setiap satu bulan sekali
yang pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran. Selain itu, setiap
hari minggu pun diadakan kegiata olahraga bersama dari semua kalangan
umur yang secara tidak langsung berfungsi untuk menjalin dan membangun
relasi yang baik antara sesama warga komplek. Sedangkan intensitas
hubungan antara warga komplek dengan penduduk asli sekitar juga cukup
baik. Hal ini, paling tidak ditujukkan dengan dikaryakannya beberapa
penduduk asli, baik sebagai asisten rumah tangga, maupun sebagai tenaga
keamanan di wilayah komplek.
KELAS 11 IPS 2
KELOMPOK 2 :
- BAGAS BUDI W
- HENDI SULISTYO
- PRABOWO G
- SHALSABILILLAH NAUFAL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar